Semarak Hari Pahlawan Nasional di Spentig Hewa: Mengendus Jejak Pahlawan, Menginspirasi Generasi Masa Kini
- account_circle yansurachman
- calendar_month Selasa, 11 Nov 2025
- visibility 238
- print Cetak

Hewa – 10 November diperingati bangsa Indonesia sebagai hari pahlawan. Penetapan hari pahlawan adalah bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Mereka pantas dikenang karena berani mengorbankan jiwa dan raganya demi mengusir penjajah dari bumi Indonesia.
Hari pahlawan adalah moment untuk mengingat kembali perjuangan pahlawan di masa lalu dalam mengusir bangsa kolonial dari bumi Nusantara. Sembari dengan itu menggali inspirasi dari pahlawan dahulu sebagai bekal bagi generasi masa kini dalam mengisi kemerdekaan. Karena itu setiap tahun peringatan hari pahlawan selalu dirayakan dengan meriah.
Aneka acara digelar dalam memperingati hari pahlawan. SMPN 3 Wulanggitang, pada tahun 2025 ini merayakan hari pahlawan dengan menggelar perlombaan antar-kelas. Kegiatan ini mengusung tema “Jejak Pahlawan, Inspirasi Generasi Masa Kini: Mengukir Prestasi, Melanjutkan Dedikasi”. Tema ini dirancang untuk menghubungkan perjuangan pahlawan masa lalu dengan peran aktif generasi muda saat ini dalam mengisi kemerdekaan.
Melalui tema ini, Warga Spentig diajak untuk menelusuri jejak perjuangan dan menggali sejarah perlawanan para pahlawan dahulu. Dengannya warga Spentig Hewa diharapkan menginternalisasikan semangat dan melanjutkan perjuangan mereka dalam konteks kehidupan saat ini. Para pahlawan dahulu telah mewariskan nilai-nilai luhur seperti keberanian, rela berkorban. Nilai-nilai inilah yang harus dipegang teguh generasi penerus.
Tema ini menegaskan bahwa kisah para pahlawan adalah motivasi yang tidak lekang oleh waktu. Semangat para pahlawan dahulu harus diadaptasi untuk menjadi semangat juang yang relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi masa kini. Semangat perjuangan para pahlawan harus menjadi inspirasi untuk berdedikasi secara nyata bagi negeri. Dedikasi itu ditunjukkan dengan mengukir prestasi sebagai seorang pelajar.
SMPN 3 Wulanggitang menggelaborasi tema hari pahlawan ini dengan mengadakan perlombaan berpidato, membaca puisi, dan cerita rakyat. Tiga jenis perlombaan ini diadakan untuk masing-masing tingkat. Lomba pidato untuk kelas 9, lomba membaca puisi untuk kelas 8, dan lomba cerita rakyat untuk kelas 7. Setiap kelas mengutus 3 orang sebagai perwakilan kelas sehingga peserta lomba seluruhnya sebanyak 24 orang. Rinciannya lomba pidato 6 peserta; lomba membaca puisi 9 orang; dan lomba cerita rakyat 9 orang.
Sabtu (08/10/2025), di aula Spentig Hewa, perlombaan ini diselenggarakan. Pagi itu, suasana aula Spentig Hewa tampak ramai. Ruangan aula dipenuhi siswa bersama guru dan pegawai SMPN 3 Wulanggitang. Cuaca yang panas di aula tanpa AC turut menambah semarak suasana perlombaan.
Acara perlombaan diawali sapaan oleh MC, Ibu Tina Liwu, guru Bahasa Indonesia Spentig Hewa. Lalu diikuti doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars Spentig Hewa. Ketua panitia, Daria Denor kemudian memberikan laporan pelaksanaan perlombaan ini. Suasana semakin meriah ketika Kepala SMPN 3 Wulanggitang secara resmi membuka kegiatan perlombaan.
Dewan juri lalu membacakan tata tertib perlombaan dan kriteria penilaian. Sebelum tampil, semua peserta lomba melakukan penarikan undian nomor urut penampilan. Tampil pada sesi pertama adalah lomba berpidato, lalu membaca puisi, dan terakhir cerita rakyat. Perlombaan berjalan dengan semarak dan meriah. Setiap siswa memberikan dukungan untuk perwakilan dari kelasnya masing – masing.
Aula sekolah selalu riuh rendah dipenuhi suara para pendukung. Sorakan dukungan suporter selalu meledak ketika nama perwakilan kelas dipanggil. Mereka selalu memberi dukunngan, membakar semangat bagi teman-temannya yang berlomba.
Di atas panggung, peserta lomba berusaha menampilkan yang terbaik. Mereka tampak sangat menghayati pidato, menjiwai puisi dan meresapi cerita rakyat yang dibawakan. Tepuk tangan bergemuruh dari seluruh penonton setiap kali para peserta lomba selesai tampil. Sebuah apresiasi yang mendalam bagi para peserta lomba. Semangat kompetisi dibaluti kehangatan sangat terasa.
Tampil sebagai dewan juri untuk lomba pidato dan membaca puisi adalah Ibu Ria Koten, Ibu Ati Tobi, dan Ibu Daria Denor. Sementara dewan juri lomba cerita rakyat adalah Ibu Klara Mare, Ibu Ria Koten, dan Ibu Ati Tobi. Dan berdasarkan hasil penilian dewan juri, juara pertama lomba pidato diraih oleh Romualdus Baba Blolon dari kelas IXA. Diikuti oleh Yosep Ape Maget dan kelas IXA dan Benediktus Posu Rotan dari kelas IXB sebagai juara dua dan tiga.
Lomba membaca puisi, peringkat pertama diraih oleh Yohanes Debrito Bataona dari kelasVIIIB. Peringkat kedua dan ketiga diraih oleh Florianus Leba Kedang dari kelas VIIIA dan Agnes Are Taranpiraq dari kelas VIIIC. Lomba cerita rakyat, pemenangnya adalah Martina Jeni Maget dari kelas VIIC. Urutan kedua ditempati oleh Maria Rowe Rotan dari kelas VIIC. Urutan ketiga ditempati oleh Pius Aprilius Liwu dari kelas VIIC.
Para juara ini mendapat penghargaan berupa piagam dan peralatan menulis berupa buku, bolpoin, dan mistar. Penghargaan ini diserahkan oleh Kepala SMPN 3 Wulanggitang dalam upacara peringatan hari pahlawan (Senin, 10/10/2025) di lapangan olahraga multifungsi Spentig Hewa.
Bagi peserta lomba, juara bukanlah target utama. Karena itu kalah bukanlah tanda kegagalan dan menang bukan ukuran kesuksesan. Menang dan kalah adalah hal yang wajar. Yang paling penting adalah pengalaman yang ditimba dari ajang perlombaan ini. Sebagaimana diungkapkan Martina Jeni Maget, bahwa melalui kegiatan ini, ia bisa belajar banyak hal mulai dari proses latihan hingga saat tampil di atas panggung perlombaan.
”Setiap hari saya selalu menghafal teks cerita rakyat. Setelah hafal, dibantu wali kelas saya berlatih menceritakan cerita tersebut. Tujuan saya bukan untuk kejar juara. Saya hanya ingin belajar dari proses ini,” ujar siswa kelas VIIC ini.
Lebih jauh Ratni, sapaannya, menceritakan proses latihan yang dijalani. ”Saya korbankan waktu untuk menghafal dan berlatih. Pulang di rumah, setelah makan saya langsung hafal teks. Malam juga saya hafal lagi. Ada yang harus dikorbankan dalam perlombaan ini. Namun itu tidak berarti dibandingkan pengorbanan pahlawan dahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan,” ujar siswa dari Kokang ini.
Sementar itu Kepala SMPN 3 Wulanggitang, Kristina Sabu Punang, S.Pd mengapresiasi pelaksanaan kegiatan perlombaan ini. ”Sebagai pimpinan, saya mengapresiasi perlombaan ini. Ini adalah moment bagi peserta didik untuk mengasah kemampuan diri. Terus berusaha mengembangkan diri adalah ciri dari pahlawan. Menjadi pahlawan sekarang, beda dengan dulu yang mengangkat senjata. Dalam konteks sekarang, pahlawan itu adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar,” ujar Kris Punang.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawan. Semarak hari pahlawan di Spentig Hewa adalah moment untuk mengenang jasa pahlawan sekaligus menggerakkan siswa untuk terus berdedikasi dan mengukir prestasi.
Penulis yansurachman
Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran. Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi: Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials. IBM: Generative AI for Educators. Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers. University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner. Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI. Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.
