Gubernur NTT Ajak Lulusan STIKES Maranatha Layani dengan Hati: “Ini Panggilan, Bukan Sekadar Profesi”
- account_circle yansurachman
- calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
- visibility 270
- print Cetak

Kupang – Sebanyak 256 lulusan STIKES Maranatha Kupang resmi dikukuhkan dalam acara wisuda dan angkat sumpah yang digelar Kamis, 12 Juni 2025. Momentum ini menjadi awal perjalanan profesional mereka sebagai perawat dan bidan yang siap terjun ke dunia pelayanan kesehatan.
Dalam acara yang berlangsung khidmat, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Lakalena, menegaskan bahwa profesi tenaga kesehatan bukan sekadar soal keterampilan medis. “Ini adalah panggilan hidup. Layani setiap pasien dengan hati yang tulus, seolah mereka adalah keluarga kalian sendiri,” ujarnya.
Gubernur juga menyoroti isu-isu strategis di bidang kesehatan di NTT seperti stunting dan kematian ibu-anak. Ia berharap para lulusan bisa menjadi bagian dari solusi. “Pemerintah daerah siap memfasilitasi penempatan kerja, baik di dalam negeri maupun luar negeri secara legal. Tenaga kesehatan sangat dibutuhkan,” tambahnya.
Alumni STIKES Sudah Menyebar ke Luar Negeri
Ketua STIKES Maranatha Kupang, Awaliyah M. Suwetty, menyampaikan bahwa kampus telah meluluskan lebih dari 3.750 alumni yang tersebar di berbagai instansi nasional dan internasional. Ia menegaskan komitmen STIKES dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga berkarakter.
“Yang kami tekankan bukan hanya ilmu, tapi juga hati. Karena dalam dunia kesehatan, kepekaan dan kasih sayang adalah bagian dari penyembuhan,” ucapnya.
STIKES juga terus meningkatkan kualitas dosen. Saat ini, satu dosen telah menyelesaikan program doktor dan dua lainnya sedang menempuh studi lanjut.
Yayasan: Toga Adalah Simbol Perjuangan
Ketua Yayasan Maranatha NTT, Alfriets Selan, memberikan pesan menyentuh kepada para lulusan. Ia mengibaratkan pendidikan sebagai bibit kurma yang tumbuh di bawah batu besar—hanya bisa tumbuh jika akarnya kuat. “Toga yang kalian pakai hari ini adalah bukti dari ketekunan dan pengorbanan. Tapi ini baru permulaan,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan LL-DIKTI Wilayah XV, Martini Derang, juga mengingatkan pentingnya etika profesi dan empati dalam dunia kesehatan. “Keahlian teknis penting, tapi melayani dengan hati adalah hal yang tak tergantikan,” tegasnya.
Harapan dari Perwakilan Wisudawan
Di akhir acara, Inka Christiani Ngahu Djawa mewakili para wisudawan mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membimbing selama masa studi. Ia mengajak teman-temannya untuk menjadikan profesi ini sebagai jalan pengabdian.
“Kita mungkin belum tahu ke mana kaki ini akan melangkah, tapi kita tahu apa yang akan kita bawa: ilmu, hati, dan semangat untuk melayani,” ucapnya.
Penulis yansurachman
Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran.Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi:Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials.IBM: Generative AI for Educators.Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers.University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner.Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI.Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.


