STIKES Maranatha Kupang Gelar Workshop Renstra 2025–2030, Fokus pada SDM dan Tata Kelola
- account_circle yansurachman
- calendar_month Senin, 18 Agt 2025
- visibility 138
- print Cetak

KUPANG – STIKES Maranatha Kupang menggelar Workshop Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) periode 2025–2030 di Hotel On The Rock, 18–19 Agustus 2025. Kegiatan dua hari ini menjadi momentum penting untuk merumuskan arah dan kebijakan institusi lima tahun ke depan, dengan fokus pada peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) dan tata kelola perguruan tinggi.
Acara dibuka dengan seremonial pembukaan yang dihadiri perwakilan Yayasan Maranatha NTT, pimpinan struktural, dosen, dan tenaga kependidikan dari seluruh program studi. Workshop ini menghadirkan narasumber utama, Dr. Dr. Samuel Igo Leton, M.Pd, Wakil Rektor I Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
Ketua Panitia, Atalia Pili Mangngi, S.Tr.Keb., M.Kes, dalam laporannya menjelaskan bahwa workshop ini digelar menyusul berakhirnya Renstra 2020–2024. Karena itu, perlu dirancang Renstra baru agar kesinambungan kebijakan, program, dan kegiatan tetap terjaga. Dokumen Renstra 2025–2030 disebut akan menjadi panduan seluruh unit kerja, mulai dari pimpinan hingga tenaga pendukung, dalam menyusun Rencana Operasional (Renop) tahunan.
“Renstra ini diharapkan komprehensif, terukur, dan realistis serta menjadi pedoman pelaksanaan Tridharma perguruan tinggi di STIKES Maranatha,” ungkap Atalia.
Ketua STIKES: Renstra adalah Peta Jalan Bersama
Ketua STIKES Maranatha Kupang, Awaliyah M. Suwetty, S.Kep., Ns., M.Kep, dalam sambutannya menegaskan pentingnya Renstra sebagai peta jalan yang menuntun arah institusi lima tahun ke depan.
“Renstra bukan sekadar dokumen formal, tetapi kompas bersama. Tanpa Renstra, institusi seperti anak yang kehilangan induknya, berjalan tanpa arah. Karena itu, kita perlu menyamakan persepsi bahwa Renstra ini milik kita semua, bukan hanya milik pimpinan,” tegasnya.
Awaliyah juga mendorong seluruh sivitas akademika untuk berkolaborasi aktif agar Renstra yang dihasilkan inklusif, adaptif terhadap perubahan, dan mampu meningkatkan daya saing STIKES Maranatha di tingkat lokal maupun nasional. Ia mengajak peserta untuk mengikuti workshop dengan kesungguhan, keterbukaan, dan semangat belajar bersama.
SDM Jadi Kunci Keunggulan
Narasumber utama, Dr. Dr. Samuel Igo Leton, M.Pd, Wakil Rektor I Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, menekankan bahwa mutu institusi sangat bergantung pada kualitas dosennya. Ia menyebut target ke depan: 30 persen dosen bergelar doktor dan 40 persen telah mencapai jabatan Lektor Kepala.
“Mutu itu dimulai dari diri sendiri. Jangan berhenti di Asisten Ahli atau Tenaga Pengajar karena tidak dihitung. Minimal harus Lektor. Idealnya, setiap dua tahun dosen harus naik jabatan fungsional,” jelasnya.
Ia mengingatkan, perjalanan akademik membutuhkan perencanaan panjang. Kurang lebih butuh 12 tahun bagi seorang dosen untuk sampai ke Lektor Kepala. Karena itu, percepatan karier akademik mutlak diperlukan. “Jika dosennya bermutu, prodi akan bermutu, dan akhirnya institusi juga bermutu,” tegasnya.
Tata Kelola dengan Ukuran yang Jelas
Selain SDM, tata kelola juga menjadi perhatian. Dr. Igo memperkenalkan model PPEPP (Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, Peningkatan) sebagai landasan kerja yang harus diterapkan di seluruh unit.
“Setiap program studi wajib punya program kerja yang jelas, berbasis anggaran, dan bisa diukur. Rerata capaian prodi akan menjadi capaian institusi. Karena itu semua harus disesuaikan dengan target akreditasi,” katanya.
Ia menegaskan, rencana tidak boleh berhenti sebagai dokumen, tetapi harus hidup dalam implementasi, dievaluasi, dan terus ditingkatkan setiap tahun.
Yayasan: Butuh Kepastian Arah
Dukungan penuh juga datang dari Yayasan Maranatha NTT. Yohanes Selan, Dewan Pengawas Yayasan, mengaku forum ini menjadi pengalaman pertama ikut dalam perancangan Renstra.
“Selama ini institusi sering berjalan tanpa arah yang jelas. Impian ada, tapi eksekusinya sering sendiri-sendiri. Lewat Renstra ini, saya berharap ada kepastian arah dan kebersamaan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa yayasan siap mendukung penuh langkah-langkah strategis yang dihasilkan dari workshop ini demi kemajuan STIKES Maranatha Kupang.
Workshop yang diikuti 50 peserta—terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, panitia, serta unsur pimpinan—menjadi ruang bersama untuk menyamakan persepsi dan menyatukan langkah. Dengan semangat itu, STIKES Maranatha Kupang menegaskan bahwa Renstra 2025–2030 bukan sekadar dokumen, melainkan pijakan nyata untuk membangun mutu SDM, memperkuat tata kelola, dan menatap masa depan dengan arah yang lebih pasti.
Penulis: Saverinus Suhardin
Penulis yansurachman
Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran.Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi:Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials.IBM: Generative AI for Educators.Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers.University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner.Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI.Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.

