STIKES Maranatha Kupang Perkuat Sistem Penjaminan Mutu melalui Workshop e-SPMI-BSC
- account_circle Saverinus Suhardin : Dosen STIKES Maranatha Kupang, peneliti aktif, penulis media lokal dan nasional.
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- print Cetak

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Maranatha Kupang terus memperkuat sistem penjaminan mutu internal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas tata kelola pendidikan tinggi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Workshop Peninjauan Standar Penjaminan Mutu Internal Institusi yang berlangsung pada 7–8 Mei 2026 di Aula STIKES Maranatha Kupang.
Kegiatan yang didukung penuh oleh Yayasan Maranatha NTT itu dilaksanakan sebagai respons terhadap terbitnya Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Workshop diikuti oleh unsur pimpinan yayasan, pimpinan institusi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta seluruh program studi di lingkungan STIKES Maranatha Kupang.
Ketua STIKES Maranatha Kupang, Awaliyah M. Suwetty, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan bahwa perubahan regulasi harus direspons dengan kesiapan institusi dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan.
Menurutnya, penjaminan mutu tidak dapat dipahami hanya sebagai pemenuhan administrasi, tetapi harus menjadi bagian dari budaya kerja seluruh sivitas akademika.
“Selama ini mutu sering dipahami sebatas dokumen. Padahal yang paling penting adalah bagaimana seluruh tahapan PPEPP dapat dijalankan secara konsisten oleh semua unsur di institusi,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan sistem penjaminan mutu sangat bergantung pada keterlibatan seluruh sumber daya manusia di lingkungan kampus, bukan hanya menjadi tanggung jawab unit tertentu.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Internal (LPMI) STIKES Maranatha Kupang, Meldy E. H. Lede, S.Kom., M.Kes., menjelaskan bahwa workshop tersebut difokuskan pada peninjauan dan penyesuaian dokumen Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sesuai regulasi terbaru.
Dokumen yang ditinjau meliputi kebijakan mutu, manual mutu, standar, hingga formulir pendukung yang menjadi bagian penting dalam implementasi sistem penjaminan mutu institusi.
“Melalui kegiatan ini kami ingin memastikan seluruh dokumen SPMI benar-benar selaras dengan regulasi terbaru dan dapat diterapkan secara terintegrasi melalui sistem e-SPMI-BSC,” katanya.
Menurut Meldy, penerapan sistem e-SPMI-BSC diharapkan mampu membantu institusi dalam pengelolaan data mutu dan akreditasi secara lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Workshop tersebut menghadirkan narasumber utama Hironimus Tangi Hiron, S.Pd., M.Pd., yang memaparkan pengembangan sistem mutu berbasis Balanced Scorecard (BSC). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pendekatan PPEPP tetap menjadi fondasi utama dalam penjaminan mutu, namun perlu didukung dengan indikator kinerja yang terukur agar peningkatan mutu dapat dicapai secara lebih optimal.
Melalui pendekatan tersebut, program studi didorong untuk menyusun target kinerja jangka menengah yang dapat dievaluasi secara berkala sesuai indikator capaian institusi.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti sesi pemaparan kebijakan, simulasi penginputan data, penyusunan target kinerja, hingga evaluasi implementasi sistem.
STIKES Maranatha Kupang berharap penguatan sistem penjaminan mutu berbasis digital tersebut dapat mendukung peningkatan kualitas tata kelola pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kesiapan institusi menghadapi proses akreditasi di masa mendatang.
- Penulis: Saverinus Suhardin : Dosen STIKES Maranatha Kupang, peneliti aktif, penulis media lokal dan nasional.
- Editor: Manual Editor
