Breaking News
light_mode
Trending Tags

Slamet Wakhyanto : Teknologi Berlari, Karakter Tertinggal ?

  • account_circle yansurachman
  • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
  • visibility 124
  • print Cetak

Opini Slamet Wakhyanto – Perkembangan teknologi digital saat ini begitu cepat, nyaris tanpa jeda. Generasi muda akrab dengan gawai sejak usia dini, terbiasa dengan akses instan, dan hidup dalam arus deras informasi. Namun di tengah laju teknologi yang berlari kencang, ada pertanyaan besar yang patut kita renungkan: apakah karakter generasi kita ikut melaju, atau justru tertinggal jauh di belakang?

Sebagai guru dan pemerhati pendidikan, saya menyaksikan betapa cepatnya teknologi merambah ruang kelas. Anak-anak kita begitu lincah berselancar di dunia digital, tetapi pertanyaan penting muncul: apakah kemajuan teknologi ini diiringi dengan pertumbuhan karakter yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional? Pertanyaan ini semakin urgen ketika kita bicara tentang Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran mendalam dan delapan profil lulusan yang menjadi kompas arah pendidikan.

Karakter: inti dari Profil Lulusan
Delapan profil lulusan yang dijabarkan dari Profil Pelajar Pancasila sesungguhnya menekankan keseimbangan antara kecakapan abad ke-21 dan karakter. Dimensi profil lulusan merupakan fokus profil lulusan yang akan dicapai yaitu keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Semua dimensi ini adalah fondasi karakter yang harus berjalan seiring dengan penguasaan teknologi.

Thomas Lickona menegaskan bahwa pendidikan karakter adalah upaya sadar untuk membantu siswa “mengenal yang baik, mencintai yang baik, dan melakukan yang baik.” (Lickona, Character Matters, 2004). Jika pendidikan kita hanya menekankan literasi digital tanpa penguatan karakter, maka kemajuan teknologi justru berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara digital tetapi rapuh secara moral.

Pembelajaran mendalam: lebih dari sekadar menguasai konten
Kurikulum Merdeka menekankan deep learning—pembelajaran yang menekankan keterkaitan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Howard Gardner melalui gagasan Five Minds for the Future (2007) mengingatkan pentingnya ethical mind dan respectful mind sebagai dua kecerdasan yang harus tumbuh di abad digital. Siswa tidak cukup sekadar mahir mengoperasikan teknologi, mereka juga harus bijak, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain.

UNESCO (2023) juga mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi di pendidikan harus berpijak pada visi humanistik: teknologi sebagai alat untuk memperkuat nilai kemanusiaan, bukan sekadar sarana transfer informasi. Tanpa visi ini, teknologi berpotensi menggerus esensi pendidikan.
Tantangan di lapangan

Sebagai guru, saya melihat ada jurang nyata. Di satu sisi, siswa cepat beradaptasi dengan aplikasi, platform daring, atau bahkan kecerdasan buatan. Di sisi lain, kasus seperti plagiarisme, ujaran kebencian di media sosial, hingga rendahnya empati dalam interaksi sehari-hari menunjukkan bahwa karakter belum tumbuh secepat teknologi. Anies Baswedan, ketika menjabat Mendikbud, pernah menegaskan bahwa “pendidikan bukan hanya tentang menguasai pengetahuan, tetapi membentuk manusia merdeka yang berkarakter.” (Kemendikbud, 2016).

Kesenjangan ini juga terlihat ketika proyek Profil Pelajar Pancasila (P5) belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mengintegrasikan nilai dan teknologi. Padahal, P5 bisa menjadi wahana strategis untuk mengajarkan literasi digital sekaligus nilai. Misalnya, siswa membuat kampanye digital anti-hoaks atau proyek kewirausahaan sosial berbasis teknologi lokal.

Jalan keluar: menyeimbangkan lari teknologi dengan lompatan karakter
Agar delapan profil lulusan benar-benar terwujud, maka pembelajaran mendalam perlu:
1.Mengintegrasikan teknologi dan nilai. Tugas berbasis teknologi harus selalu dikaitkan dengan dimensi karakter, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan gotong royong.
2.Menekankan refleksi. Setiap aktivitas digital perlu diikuti refleksi: apa dampaknya bagi diri, orang lain, dan bangsa.
3.Kolaborasi orang tua, guru, dan masyarakat. Karakter bukan hanya dibentuk di kelas, tetapi di rumah dan lingkungan sosial.
4.Pembelajaran berbasis projek yang kontekstual. Projek harus menantang siswa untuk tidak hanya berpikir kritis dan kreatif, tetapi juga menunjukkan kepedulian sosial dan nasionalisme.

Teknologi memang berlari kencang. Tetapi pendidikan karakter harus menjadi kompas yang memastikan arah lari itu menuju tujuan yang benar. Dengan Kurikulum Merdeka dan pembelajaran mendalam, delapan profil lulusan bisa benar-benar diwujudkan: bukan hanya generasi cerdas digital, tetapi generasi yang berlandaskan pada dimensi keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Hal ini sejalan dengan penerapan beriman, berakhlak, mandiri, kritis, kreatif, gotong royong, terbuka pada dunia, dan tetap mencintai tanah air.
Jika karakter memimpin, maka teknologi akan menjadi sahabat peradaban; jika karakter tertinggal, maka teknologi hanya akan mempercepat kehilangan arah.
(Penulis : Slamet Wakhyanto , SMAN Kelubagolit )

Penulis

Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran. Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi: Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials. IBM: Generative AI for Educators. Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers. University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner. Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI. Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peminat Perpustakaan Konvensional Dan Perpustakaan Digital

    • calendar_month Senin, 12 Jun 2023
    • account_circle yansurachman
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Minat terhadap perpustakaan konvensional dan perpustakaan digital dapat berbeda-beda tergantung pada preferensi, kebutuhan, dan aksesibilitas individu. Berikut adalah gambaran umum tentang peminat kedua jenis perpustakaan tersebut: Peminat Perpustakaan Konvensional: Peminat Perpustakaan Digital: Penting untuk dicatat bahwa peminat perpustakaan tidak mutlak memilih salah satu jenis perpustakaan. Banyak orang menikmati dan memanfaatkan kedua jenis perpustakaan, tergantung pada […]

  • Hewan Sapi Dalam Sudut Pandang Budaya Di Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 1 Jul 2023
    • account_circle yansurachman
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Sapi memiliki peran yang sangat penting dalam budaya Indonesia. Secara tradisional, sapi dianggap sebagai hewan yang suci dan bernilai tinggi dalam masyarakat Indonesia. Berikut adalah beberapa sudut pandang budaya Indonesia terhadap sapi: Sapi memiliki nilai budaya yang dalam dalam masyarakat Indonesia, baik dalam konteks pertanian, agama, tradisi, kuliner, maupun ekonomi. Peran dan makna sapi dalam […]

  • Alasan Ikut Komunitas Pendidikan

    • calendar_month Kamis, 25 Mei 2023
    • account_circle Tim Pawitra
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Mengikuti komunitas pendidikan memiliki banyak manfaat yang dapat meningkatkan pengalaman belajar dan perkembangan pribadi. Berikut adalah beberapa manfaat mengikuti komunitas pendidikan: Pertukaran pengetahuan dan pengalaman: Dalam komunitas pendidikan, Anda dapat bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat dan tujuan belajar yang sama. Ini memberikan kesempatan untuk bertukar pengetahuan, pengalaman, dan ide-ide dengan anggota komunitas lainnya. Anda […]

  • Sering Kunjung TBM Lautan Ilmu Dan Belajar Bersama Orang Tua , Anak 3 Tahun Sudah Bisa Membaca

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle yansurachman
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Kerap berkunjung TBM Lautan Ilmu , Bernard seorang anak kecil yang tinggal di Perumahan Griya Florentina Blok E Larantuka , biarpun baru berusia 3 tahun tetapi sudah bisa membaca. Hal tersebut disampaikan oleh Zaini, pengelola taman baca . Kebisaan Bernard dalam membaca di usia dini diduga karena bimbingan orang tua dan memiliki “circle” di Taman […]

  • Tour Kemanusian Bengkel Seni Milenial SMK Suradewa Di Posko Pengungsian Konga

    • calendar_month Selasa, 17 Des 2024
    • account_circle yansurachman
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Jumat, 13 Desember 2024, Ekstrakurikuler seni teater sekaligus komunitas seni teater Bengkel Seni Milenial pergi ke posko pengungsian bencana letusan Gunung Lewotobi tepatnya di Konga sebagai relawan. Disana mereka mempunyai agenda yaitu membantu produksi makanan di dapur pengungsian dan pada malam terakhir mereka menghibur anak anak yang ada di pengungsian dengan beberapa pertunjukan di antara […]

  • Windows Copilot , AI Pembuat Gambar Otomatis

    • calendar_month Jumat, 2 Feb 2024
    • account_circle yansurachman
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Pengumuman windows copilot yang dapat diakses oleh pengguna windows 11 dan windows 10 membawa banyak manfaat. Bukan hanya karena windows copilot dapat memberikan saran dari banyak hal, namun juga AI yang dikembangkan oleh microsoft ini dapat membuat gambar dengan baik. Tim redaksi pada 2/2/2024 melakukan pengujian terhadap kemampuan Copilot dalam menghasilkan gambar. Formula (command) yang […]

expand_less
Exit mobile version