Pentingnya Ketrampilan Membaca Nyaring Bagi Masyarakat
- account_circle yansurachman
- calendar_month Sen, 8 Des 2025
- visibility 41
- comment 0 komentar

Indonesia menatap tahun 2045 sebagai tonggak satu abad kemerdekaan (1945- 2045). Sebuah momentum yang sering disebut sebagai lahirnya “Generasi Emas 2045”. Habitus generasi ini diharapkan tampil sebagai manusia Indonesia yang unggul: cerdas, berkarakter, kreatif, berdaya saing, serta berakar kuat pada nilai-nilai budaya bangsa.
Namun, generasi emas tidak mungkin lahir secara instan. Ia harus dipersiapkan melalui proses panjang, salah satunya melalui pembangunan budaya literasi sejak dini. Dalam konteks inilah, Perpustakaan dan Kearsipan Daerah kabupaten Manggarai Timur mengambil peran strategis sebagai penggerak budaya membaca, salah satunya melalui kegiatan Membaca Nyaring yang melibatkan guru, orangtua, pemustaka, dan para pegiat literasi.
Membaca Nyaring: Gerakan Sederhana, Memilki Dampak Luar Biasa.
Kegiatan Membaca Nyaring (Read Aloud adalah kegiatan membacakan buku dengan suara lantang, jelas, artikulasi, intonasi, gestur kepada anak atau kelompok pendengar agar mereka berdampak biasa mendengar (listening level,) mau membaca dan biasa membaca (independent reading) dan memahami isi teks ( Jim Tereales).
Sekilas tampak sederhana, tetapi praktik ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kognitif, bahasa, emosi, dan karakter anak. Anak-anak yang sering mendengarkan cerita yang dibacakan akan lebih kaya kosakata, memiliki daya imajinasi yang kuat, mampu mengekspresikan perasaan dengan lebih baik, berpikir kritis (critical thingking) serta menunjukkan minat baca yang tinggi.

Kegiatan yang berlangsung tiga hari sejak Rabu 3 hingga Jumat 5 Desember 2025 diprakarsai dinas Perpustakaan dan Kearsipan daerah kabupaten Manggarai Timur. Kegiatan yang sangat penting tersebut, dibuka oleh bapak Fridus Jahang, selaku kepala dinas Perpustakaan, yang melibatkan orang dewasa sebagai pelaku utama. Ada tiga kategori. Pertama kategori Guru yang diikuti 50 peserta. Guru dilatih untuk memahami apa itu membaca nyaring, manfaat membaca nyaring, membaca nyaring di kelas untuk pembelajaran hingga praktik pemodelan membaca nyaring.
Kedua, kategori pemustaka dan pegiait lerasi. Mereka diajak aktif terlibat, menjadikan perpustakaan sebagai pelibatan masyarakat, memberikan akses layanan Buku Bacaan Bermutu bantuan Perpusnas 2024, serta harapan bagi pegiat literasi berperan sebagai penggerak di komunitas masing-masing. Ketiga, kategori orangtua. Orangtua adalah guru pertama anak sejak usia anak 0-2 tahun, 3-4 tahun dan 6-9 tahun. Artinya aktivitas Membaca Nyaring sedianya wajib dilakukan sejak dini. Orangtua-lah yang menjadi role model atau teladan Membaca Nyaring bagi anak.
Maka, dengan demikian, hemat saya Membaca Nyaring tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi kebiasaan yang tumbuh di berbagai ruang kehidupan untuk menjadikan manusia sebegai pembelajar sepanjang hayat.
Perpustakaan sebagai Pusat Gerakan Literasi Masyarakat
Di Kabupaten Manggarai Timur, dalam pengamatan dan refleksi penulis selama ini, Perpustakaan dan Kearsipan Daerah sering dipersepsikan hanya sebagai tempat menyimpan buku, atau transaksi peminjaman buku fiksi atau nonfiksi. Faktanya saat ini Perpusda dituntut menjadi pusat pelibatan publik aktivitas literasi masyarakat: ruang belajar, ruang diskusi, ruang kreasi, sekaligus ruang perjumpaan lintas usia dan latar belakang. Hal itu terbukti dari kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, sebab peserta yang hadir berasal dari 12 kecamatan di kabupaten Manggarai Timur.
Ijinkan saya, menukik lebih dalam jika saya tidak keberatan mengungkapkan Perpustakaan Daerah Kabupaten Manggarai Timur sebagai ruang peradaban telah menunjukkan transformasi generasi menuju generasi emas 2045 melalui program-program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, salah satunya melalui kegiatan Membaca Nyaring.
Melalui kegiatan ini, perpustakaan tidak lagi berdiri sebagai institusi atau gedung beku di tengah panasnya kota Borong yang berjarak dengan masyarakat, tetapi hadir sebagai representatif Sahabat Literasi lebih giat belajar, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa dan masyarakat Manggarai Timur pada umumnya.
Dengan demikian, dari tiga kategori di atas sebanyak 150 orang peserta mengalami kegembiraan, sukacita, memuaskan, antusias dan terlibat aktif dalam praktik Membaca Nyaring.
Membangun Budaya Membaca Sejak Dini Di Mulai dari Rumah
Hemat saya, ‘bisa atau biasa’ membaca bukanlah hasil turunan genetik dari lintas generasi. Seseorang dikatakan bisa membaca, biasa membaca, membaca memahami isi teks itu berkat kerja keras dalam mendisiplinkan diri untuk terus melatih keterampilan membacan. Keterampilan membaca sejatinya tidak dibentuk pertama kali di sekolah, melainkan di rumah. sejak anak berusia 0-2 tahun dan seterusnya.
Rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertama bagi anak. Sayangnya bila di Manggarai Timur masih banyak keluarga yang belum menjadikan hidup membaca sebagai kebiasaan harian. Buku sering dianggap sebagai pelengkap, tidak penting dan bukan kebutuhan primer. Televisi dan gawai lebih dominan mengisi waktu anak dibandingkan buku.
Melalui kegiatan Membaca Nyaring yang melibatkan guru, pemustaka, pegiat literasi, orangtua, Perpustakaan dan Kearsipan Daerah kabupaten Manggarai Timur secara tidak langsung mengirimkan singal kuat bahwa literasi adalah “tanggung jawab bersama”, bukan hanya tugas guru di sekolah. Kegiatan sederhana orangtua biasakan dengan mulai membacakan buku cerita anak sebelum tidur, menemani anak membaca di sore hari, menyisihkan waktu 20-30 menit Membaca Nyaring, saat itulah benih-benih kecintaan terhadap membaca buku ditanamkan.
Lebih jauh, anak-anak yang mendapatkan layanan Membaca Nyaring t di rumah biasanya akrab dengan buku serta cenderung memiliki hubungan emosional yang positif, critical thingking, kognitif dan karakter yang baik.

Lingkungan Masyarakat sebagai Ruang Tumbuhnya Literasi
Selain rumah, lingkungan masyarakat memegang peran penting dalam menguatkan budaya membaca. Anak-anak yang hidup di lingkungan yang mendukung aktivitas literasi—seperti adanya taman baca, kegiatan mendongeng, pojok baca di rumah ibadah, atau komunitas literasi—akan lebih mudah mengembangkan kebiasaan membaca. Sebaliknya, lingkungan yang miskin rangsangan literasi akan membuat anak sulit melihat membaca sebagai sesuatu yang menarik dan bermakna.
Penulis mengajak, di sinilah peran pegiat literasi menjadi sangat vital. Kehadiran mereka sebagai relawan, volunteer pendamping baca, dan penggerak komunitas membantu menjembatani keterbatasan yang ada di masyarakat.
Peran strategis Perpustakaan dan Kearsipan Daerah kabupaten Manggarai Timur, melalui jejaring kolaborasi dengan para pegiat literasi, memperluas jangkauan layanan hingga ke pelosok-pelosok desa. Kegiatan Membaca Nyaring yang dilakukan di Taman Baca Masyarakat, ruang terbuka, balai desa, atau halaman rumah warga menjadi bukti bahwa literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang formal.
Sekolah sebagai Penguat dan Pengarah
Sekolah tetap memiliki peran sentral dalam menumbuhkan dan mengarahkan budaya membaca. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi juga terdiferensiasi sebagai teladan dalam berliterasi. Ketika guru gemar membaca, menceritakan buku yang dibaca, serta mempraktikkan Membaca Nyaring di kelas, siswa akan menangkap pesan bahwa membaca adalah kegiatan yang penting dan menyenangkan.
Kegiatan Membaca Nyaring yang diikuti oleh para guru di Manggarai Timur membuka ruang refleksi sekaligus transformasi praktik pembelajaran. Membaca tidak lagi dipahami sebagai tugas semata guru, tetapi sebagai pengalaman yang hidup dan bisa dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari dari peserta didik. Cerita-cerita yang dibacakan menjadi pengantar untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, kerja keras, toleransi, cinta tanah air, serta kepedulian sosial—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam menyiapkan Generasi Emas 2045.
Menuju Generasi Emas 2045: Literasi sebagai Pondasi Utama
Generasi Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat secara karakter dan mampu kolaborasi dan berpikir kritis. Semua itu, tidak mungkin tercapai tanpa fondasi literasi yang kokoh. Literasi memungkinkan seseorang memahami informasi, mengolah pengetahuan, mengambil keputusan secara bijak, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial.
Selain itu, apa yang dilakukan oleh Perpustakaan dan Kearsipan Daerah kabupaten Manggarai Timur melalui kegiatan Membaca Nyaring sesungguhnya adalah investasi jangka panjang. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat dalam hitungan bulan, tetapi dalam rentang waktu bertahun-tahun, kebiasaan membaca yang tumbuh sejak dini akan membentuk generasi pembelajar sepanjang hayat.
Panggilan Bersama untuk Masa Depan
Dalam sambutannya menutup kegiatan Membaca Nyaring, bapak wakil bupati Manggarai Timur, Tarsi Syukur menuturkan bahwa Perpustakaan dan Kearsipan Daerah kabupaten Manggarai Timur, melalui kegiatan Membaca Nyaring yang melibatkan guru, orang tua, pemustaka, dan pegiat literasi, telah menjelma menjadi simpul penggerak budaya baca di daerah. Inisiatif ini adalah sebuah panggilan bersama bahwa membangun Generasi Emas 2045 tidak bisa ditunda dan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, ” Tutur bapak Tarsi penuh wibawa
Akhirnya, budaya Membaca Nyaring harus ditanamkan sejak dini dari rumah, dikuatkan di lingkungan masyarakat, difasilitasi oleh perpustakaan, dan diperkokoh oleh guru di sekolah. Ketika keempat ruang ini bergerak secara selaras, maka cita-cita melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing bukanlah sekadar mimpi, melainkan sebuah keniscayaan. Dari Manggarai Timur, dari kegiatan Membaca Nyaring yang mungkin tampak sederhana, harapan besar tentang masa depan bangsa sedang ditumbuhkan. Rumusnya sederhana, latihan, latihan dan latihan.
Penulis yansurachman
Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran.Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi:Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials.IBM: Generative AI for Educators.Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers.University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner.Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI.Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.


Saat ini belum ada komentar