Menghidupkan Maria Zaitun, BSM Pentaskan Nyanyian Angsa di Flores Timur
- account_circle Moh. Zaini Ratuloli: Guru SMK Sura Dewa Larantuka, pegiat literasi, seniman teater, penulis media nasional.
- calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
- visibility 146
- print Cetak

LARANTUKA – Tokoh ikonik Maria Zaitun akan kembali menyuarakan jeritan kemanusiaan di tanah Flores melalui pementasan teater “Nyanyian Angsa” karya WS Rendra. Bengkel Seni Milenial (BSM) kini tengah mempersiapkan generasi barunya untuk menghidupkan kembali kisah klasik yang ditulis pada akhir tahun 60-an tersebut, sebagai upaya melawan ketidakadilan sosial yang masih relevan hingga saat ini.
Pementasan ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah refleksi atas kondisi masyarakat yang kerap terjebak pada tampilan fisik semata. Maria Zaitun, sang tokoh utama, digambarkan sebagai sosok yang ingin bertobat namun terus ditolak oleh sentimen kemanusiaan yang dangkal. Melalui lakon ini, BSM berupaya menyentuh hati penonton untuk melihat lebih dalam ke isi hati manusia daripada sekadar menghakimi kulit luarnya.
Upaya Regenerasi dan Pesan Kemanusiaan
Sebelumnya, karya legendaris ini pernah dimainkan oleh BSM pada tahun 2018 dalam rangka perayaan 100 tahun Gereja St. Ignatius Waibalun. Kini, di tahun 2026, semangat tersebut diestafetkan kepada generasi muda yang lebih progresif. Latihan intensif mulai digelar sejak 25 Februari 2026 bertempat di TBM Lautan Ilmu, di mana para anggota nampak serius mendalami karakter Maria Zaitun yang kompleks.
Beberapa poin penting dalam rencana pementasan 2026 meliputi:
- Lokasi Pementasan: Direncanakan berlangsung di Riangpuho Tanjung Bunga, Taman Kota Larantuka, dan beberapa titik strategis lainnya di Flores.
- Misi Utama: Menggugah empati masyarakat terhadap kehidupan orang-orang yang termarjinalkan.
- Pendekatan Seni: Menggunakan metode humanis untuk memastikan pesan keadilan sampai ke akar rumput.
Diharapkan, kehadiran kembali Maria Zaitun di panggung-panggung Flores dapat menjadi pengingat bagi semua pihak tentang arti penting sebuah empati. Kehidupan yang penuh perjuangan di tengah ketidakadilan sosial menuntut kita untuk tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan sesama.
- Penulis: Moh. Zaini Ratuloli: Guru SMK Sura Dewa Larantuka, pegiat literasi, seniman teater, penulis media nasional.
- Editor: Manual Editor




