Tenun Ikat Waibalun , Upaya Oma Margareta Menenun Masa Depan di ArtLarantuka
- account_circle Moh. Zaini Ratuloli: Guru SMK Sura Dewa Larantuka, pegiat literasi, seniman teater, penulis media nasional.
- calendar_month Sab, 21 Feb 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar

LARANTUKA – Isu kepunahan regenerasi pengrajin Tenun Ikat Waibalun menjadi sorotan utama dalam agenda diskusi seni yang digelar di Aula Paroki Waibalun, Flores Timur, Jumat (20/2/2026). Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ArtLarantuka Vol. 1 yang diinisiasi oleh kelompok kolektif Teater Rakaat guna melestarikan jejak kebudayaan lokal.
Kegiatan yang berlangsung sejak 19 hingga 22 Februari 2026 ini menghadirkan tokoh pengrajin senior, Margareta Larantukan atau yang akrab disapa Oma Eta. Dalam paparannya, Oma Eta mengungkapkan kegelisahannya terhadap minimnya minat generasi muda dalam menekuni seni tenun tradisional yang kini didominasi oleh kelompok ibu-ibu.
Menjawab Kegelisahan dengan Dedikasi
Meskipun jumlah pengrajin kian menyusut, Oma Eta tetap konsisten merawat tradisi melalui kelompok binaannya, Pondok Kudi Ana. Baginya, tenun bukan sekadar kain, melainkan urat nadi ekonomi dan identitas budaya yang kaya akan makna filosofis baik dari segi motif maupun pilihan warna khas Waibalun.
- Eksistensi Budaya: Tenun sebagai jejak sejarah dan identitas masyarakat Waibalun.
- Pilar Ekonomi: Bukti nyata dedikasi Oma Eta yang mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi dari hasil menenun.
- Tantangan Regenerasi: Minimnya remaja putri yang menguasai teknik menenun di tengah arus modernisasi.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Diskusi ini dihadiri secara antusias oleh kalangan remaja putri, termasuk peserta didik dari SMKK Hendrikus Leven dan SMK Sura Dewa. Oma Eta secara aktif mendorong para siswi untuk tidak hanya melihat tenun sebagai produk masa lalu, tetapi sebagai potensi masa depan yang bermakna.
Rangkaian ArtLarantuka Vol. 1 oleh Teater Rakaat ini diharapkan menjadi pemantik bagi munculnya pengrajin-pengrajin muda yang siap menjaga keberlanjutan tradisi tenun ikat di Flores Timur. Oma Eta menutup sesi dengan pesan menyentuh tentang kebahagiaannya berbagi ilmu kepada tunas bangsa demi memastikan kehidupan lewat tenun terus berlanjut.
- Penulis: Moh. Zaini Ratuloli: Guru SMK Sura Dewa Larantuka, pegiat literasi, seniman teater, penulis media nasional.
- Editor: Manual Editor

Saat ini belum ada komentar