TBM Solita Larantuka Perkenalkan Oring Melalui Cerita Pendek
- account_circle yansurachman
- calendar_month Sen, 23 Des 2024
- visibility 45
- comment 0 komentar

TBM Solita Larantuka yang dibina oleh Kak Olin Uran , sering memperkenalkan ragam budaya Lamaholot melalui cerita kepada anak-anak setempat. Cerita yang disampaikan ke anak-anak dapat diterima dengan baik karena menggunakan bahasa yang populer bagai anak. Pada kesempatan bulan November 2024, Kak Olin menceritakan tentang “Oring” kepada anak-anak. Berikut ini cerita Kak Olin tentang Oring.
Halo sobat, kali ini kami hadir dengan berbagai informasi sekitar budaya Lamaholot.
Melihat banyak keragaman budaya yang ada di sekitar kita, menandakan kita masih menjadi bagian dari kultur, adat budaya yang kaya akan makna.
Mari kita mengenal satu demi satu…. Hingga kita tetap sayang, dengan terus menjaga dan melestarikannya. Mempunyai minat untuk bertutur ke setiap generasi.
Kali ini kita menuju ke Kampung LEWOAWANG. ILEBURA.
Kampung yang terletak di kaki gunung Lewotobi. Pantai selatan daratan Flores Timur.
Disana masih ada pondok kecil yang disebut :
ORING.
Ayo kita mengenal Oring. 👋
Oring ini merupakan rumah panggung, beratap alang-alang, tiangnya dari batang pohon yang besar.
Antara tiang oring paling atas dan kayu-kayu lantai oring diberi lempengan kayu ceper dan tebal.
Pada bagian atas oring ini, ada teras, dan pintu. Dindingnya terbuat dari keneka (bilah bambu) .
Untuk bisa naik sampai di atas oring, dibutuhkan tangga.
Ada tangga yang disimpan di salah satu sisi oring.
Itulah ciri-ciri oring atau pondok (lumbung) penyimpanan padi, jagung dan hasil kebun lainya, kepunyaan masyarakat Desa Lewoawang, Kecamatan Ilebura, Kabupaten Flores Timur.
Dibawah oring ini biasanya ada bale-bale bambu (tempat tidur dari bambu). Yang dipakai untuk tidur atau duduk bercengkrama.
Tempat ternyaman untuk memasak, titi jagung, bakar jagung muda, ikan, dan menyantap makanan ala di kebun.
Ada juga yang membuatnya jadi kandang hewan biar hewan peliharaannya aman dari panas dan hujan.
Satu lagi yang buat betah bagi mama -mama adalah Tane atau menenun.
Menenun menjadi kekhasan mama-mama dizaman dulu.
Cukup memprihatinkan bahwa untuk saat ini, minat akan tenun semakin kurang.
Ada beberapa orang muda yang menekuni tenun ikat di kampung ini.
Namun masih harus terus diperkenalkan dan dibuat menjadi minat dalam pengembangan bakat anak-anak.
Selain itu. Tenun ikat pewarna alam, sepertinya hampir tidak nampak lagi di daerah ini.
Kiranya dalam waktu, semua kekahasan daerah bisa kembali di angkat menjadi kekayaan budaya yang bisa diwariskan.
Ayo kita ke Lewoawang.
Semoga keadaan Ile (gunung) Lewotobi, semakin membaik. Menjadi keindahan tersendiri bagi semua yang akan melintasi kaki gunung. Dari arah Nobo atau dari Boru. Akan tiba di tengah-tengah lembah kecil yaitu Desa Lewoawang.
Adakah yang punya oring sama dengan oring ini? Atau berbeda, yang masih asli dan bersejarah.
Tinggalkan komen di kolom komentar ya..
Sekian cerita kami. Terima kasih telah membaca.
Tabe (salam).
Penulis yansurachman
Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran.Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi:Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials.IBM: Generative AI for Educators.Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers.University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner.Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI.Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.


Saat ini belum ada komentar