Quo Vadis Pembelajaran Mendalam vs Sarana Pendukung Fisik dan Non Fisik dalam Praktik di Sekolah
- account_circle yansurachman
- calendar_month Kam, 28 Agu 2025
- visibility 56
- comment 0 komentar

Pembelajaran mendalam atau deep learning semakin gencar digaungkan dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya melalui Kurikulum Merdeka. Gagasannya luhur: siswa tidak sekadar menghafal teori, tetapi mampu memahami, mengaitkan dengan kehidupan nyata, serta menginternalisasi nilai-nilai untuk membentuk karakter. Namun, pertanyaan penting perlu diajukan: quo vadis pembelajaran mendalam, ke mana arah dan nasibnya, jika sarana pendukung—baik fisik maupun non fisik—masih jauh dari kata memadai?
Dari sisi sarana fisik, banyak sekolah menghadapi keterbatasan mendasar. Laboratorium yang minim, perpustakaan yang kurang lengkap, ruang kelas yang seadanya, hingga keterbatasan akses internet membuat guru dan siswa kesulitan melakukan eksplorasi yang bermakna. Padahal, pembelajaran mendalam menuntut ruang bagi eksperimen, proyek kolaboratif, dan interaksi aktif dengan sumber belajar yang beragam. Tanpa dukungan infrastruktur, guru akhirnya kembali pada pola ceramah dan hafalan—jauh dari semangat deep learning.
Sementara itu, sarana non fisik juga tidak kalah penting. Kapasitas guru dalam merancang dan memfasilitasi pembelajaran mendalam masih sangat bervariasi. Sebagian guru telah beradaptasi, tetapi banyak pula yang masih terjebak dalam orientasi ujian semata. Di sisi lain, kepemimpinan sekolah, dukungan kebijakan, serta pemahaman orang tua tentang esensi pembelajaran mendalam sangat menentukan. Tanpa ekosistem yang sehat, pembelajaran mendalam hanya berhenti di atas kertas.
Maka, quo vadis pembelajaran mendalam di sekolah-sekolah kita? Jalan ke depan hanya mungkin jika pemerintah, sekolah, dan masyarakat berjalan seirama. Investasi pada sarana fisik harus sejalan dengan peningkatan kualitas guru dan manajemen sekolah. Lebih dari itu, diperlukan perubahan paradigma: bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar nilai ujian, melainkan menyiapkan generasi pembelajar sepanjang hayat. Jika sarana fisik dan non fisik tidak dipenuhi, maka pembelajaran mendalam akan tetap menjadi jargon indah tanpa jejak nyata dalam kehidupan siswa.
Penulis : Slamet Wakhyanto (SMAN Kelubagolit)
Penulis yansurachman
Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran. Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi: Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials. IBM: Generative AI for Educators. Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers. University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner. Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI. Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.

Saat ini belum ada komentar