Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Slamet Wakhyanto : Teknologi Berlari, Karakter Tertinggal ?

Slamet Wakhyanto : Teknologi Berlari, Karakter Tertinggal ?

  • account_circle yansurachman
  • calendar_month Sen, 8 Sep 2025
  • visibility 17
  • comment 0 komentar

Opini Slamet Wakhyanto – Perkembangan teknologi digital saat ini begitu cepat, nyaris tanpa jeda. Generasi muda akrab dengan gawai sejak usia dini, terbiasa dengan akses instan, dan hidup dalam arus deras informasi. Namun di tengah laju teknologi yang berlari kencang, ada pertanyaan besar yang patut kita renungkan: apakah karakter generasi kita ikut melaju, atau justru tertinggal jauh di belakang?

Sebagai guru dan pemerhati pendidikan, saya menyaksikan betapa cepatnya teknologi merambah ruang kelas. Anak-anak kita begitu lincah berselancar di dunia digital, tetapi pertanyaan penting muncul: apakah kemajuan teknologi ini diiringi dengan pertumbuhan karakter yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional? Pertanyaan ini semakin urgen ketika kita bicara tentang Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran mendalam dan delapan profil lulusan yang menjadi kompas arah pendidikan.

Karakter: inti dari Profil Lulusan
Delapan profil lulusan yang dijabarkan dari Profil Pelajar Pancasila sesungguhnya menekankan keseimbangan antara kecakapan abad ke-21 dan karakter. Dimensi profil lulusan merupakan fokus profil lulusan yang akan dicapai yaitu keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Semua dimensi ini adalah fondasi karakter yang harus berjalan seiring dengan penguasaan teknologi.

Thomas Lickona menegaskan bahwa pendidikan karakter adalah upaya sadar untuk membantu siswa “mengenal yang baik, mencintai yang baik, dan melakukan yang baik.” (Lickona, Character Matters, 2004). Jika pendidikan kita hanya menekankan literasi digital tanpa penguatan karakter, maka kemajuan teknologi justru berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara digital tetapi rapuh secara moral.

Pembelajaran mendalam: lebih dari sekadar menguasai konten
Kurikulum Merdeka menekankan deep learning—pembelajaran yang menekankan keterkaitan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Howard Gardner melalui gagasan Five Minds for the Future (2007) mengingatkan pentingnya ethical mind dan respectful mind sebagai dua kecerdasan yang harus tumbuh di abad digital. Siswa tidak cukup sekadar mahir mengoperasikan teknologi, mereka juga harus bijak, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain.

UNESCO (2023) juga mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi di pendidikan harus berpijak pada visi humanistik: teknologi sebagai alat untuk memperkuat nilai kemanusiaan, bukan sekadar sarana transfer informasi. Tanpa visi ini, teknologi berpotensi menggerus esensi pendidikan.
Tantangan di lapangan

Sebagai guru, saya melihat ada jurang nyata. Di satu sisi, siswa cepat beradaptasi dengan aplikasi, platform daring, atau bahkan kecerdasan buatan. Di sisi lain, kasus seperti plagiarisme, ujaran kebencian di media sosial, hingga rendahnya empati dalam interaksi sehari-hari menunjukkan bahwa karakter belum tumbuh secepat teknologi. Anies Baswedan, ketika menjabat Mendikbud, pernah menegaskan bahwa “pendidikan bukan hanya tentang menguasai pengetahuan, tetapi membentuk manusia merdeka yang berkarakter.” (Kemendikbud, 2016).

Kesenjangan ini juga terlihat ketika proyek Profil Pelajar Pancasila (P5) belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mengintegrasikan nilai dan teknologi. Padahal, P5 bisa menjadi wahana strategis untuk mengajarkan literasi digital sekaligus nilai. Misalnya, siswa membuat kampanye digital anti-hoaks atau proyek kewirausahaan sosial berbasis teknologi lokal.

Jalan keluar: menyeimbangkan lari teknologi dengan lompatan karakter
Agar delapan profil lulusan benar-benar terwujud, maka pembelajaran mendalam perlu:
1.Mengintegrasikan teknologi dan nilai. Tugas berbasis teknologi harus selalu dikaitkan dengan dimensi karakter, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan gotong royong.
2.Menekankan refleksi. Setiap aktivitas digital perlu diikuti refleksi: apa dampaknya bagi diri, orang lain, dan bangsa.
3.Kolaborasi orang tua, guru, dan masyarakat. Karakter bukan hanya dibentuk di kelas, tetapi di rumah dan lingkungan sosial.
4.Pembelajaran berbasis projek yang kontekstual. Projek harus menantang siswa untuk tidak hanya berpikir kritis dan kreatif, tetapi juga menunjukkan kepedulian sosial dan nasionalisme.

Teknologi memang berlari kencang. Tetapi pendidikan karakter harus menjadi kompas yang memastikan arah lari itu menuju tujuan yang benar. Dengan Kurikulum Merdeka dan pembelajaran mendalam, delapan profil lulusan bisa benar-benar diwujudkan: bukan hanya generasi cerdas digital, tetapi generasi yang berlandaskan pada dimensi keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Hal ini sejalan dengan penerapan beriman, berakhlak, mandiri, kritis, kreatif, gotong royong, terbuka pada dunia, dan tetap mencintai tanah air.
Jika karakter memimpin, maka teknologi akan menjadi sahabat peradaban; jika karakter tertinggal, maka teknologi hanya akan mempercepat kehilangan arah.
(Penulis : Slamet Wakhyanto , SMAN Kelubagolit )

Penulis

Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran.Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi:Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials.IBM: Generative AI for Educators.Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers.University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner.Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI.Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi


Math Captcha
− 3 = 1


Rekomendasi Untuk Anda

  • Lazio kalah dari bologna 1-2 di olimpico

    Lazio Kalah 1-2 Dari Bologna Lewat Comeback Dramatis

    • calendar_month Sel, 20 Feb 2024
    • account_circle yansurachman
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Pertandingan menarik antara SS Lazio dan Bologna di Liga Italia pekan ke-25 berakhir dengan skor 1-2 untuk tim tamu (19/02/2024). Laga ini digelar di Stadion Olimpico. Pada menit ke-18, Gustav Isaksen mencetak gol untuk Lazio, memberikan keunggulan awal. Namun, Bologna memberikan respons cepat dengan dua gol balasan. Oussama El Azzouzi mencatatkan gol pada menit ke-38, dan Joshua Zirkzee menambahkan gol kedua untuk Bologna pada menit […]

  • TBM Palo Porong Belajar Ekosistem Laut Dorotea Date makin

    TBM Palo Porong Kolidatang Belajar Tentang Ekosistem Laut

    • calendar_month Jum, 22 Nov 2024
    • account_circle yansurachman
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Komunitas Literasi TBM Palo Porong Kolidatang merupakan salah satu komunitas belajar di luar sekolah yang terbilang sangat aktif dalam melaksanakan kegiatan edukasi bermuatan literasi sejak Tahun 2018 hingga sampai pada hari ini. Komunitas ini terletak di Desa Kolaka (Dusun Kolidatang), Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur-NTT. Komunitas ini beranggotakan para pelajar jenjang usia pendidikan TK/Paud, […]

  • Stikes Maranatha Kupang kerja sama dengan ISC Timur Leste

    Implementasi Kerja Sama Internasional ISC Timor Leste dan STIKes Maranatha Kupang Resmi Ditutup: Pembuka Jalan Pengembangan Tridarma Perguruan Tinggi

    • calendar_month Kam, 3 Apr 2025
    • account_circle yansurachman
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Kerja sama internasional antara Instituto Superior Cristal (ISC) Timor Leste dan STIKes Maranatha Kupang telah mencapai puncaknya dengan sukses. Serangkaian kegiatan pengabdian masyarakat (Pengmas) yang berlangsung sejak Kamis (13/03/2025) resmi ditutup dalam sebuah seremoni di aula kampus STIKes Maranatha Kupang pada Sabtu (23/03/2025). Acara ini menjadi penanda berakhirnya program awal yang diharapkan membuka jalan bagi […]

  • Peran Matematika Dalam Seni Kerajinan Budaya Lokal

    Peran Matematika Dalam Seni Kerajinan Budaya Lokal

    • calendar_month Jum, 2 Jun 2023
    • account_circle Tim Pawitra
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Meskipun pada pandangan awal, matematika dan seni kerajinan budaya lokal mungkin terlihat berbeda, namun sebenarnya matematika memainkan peran penting dalam proses kreatif dan pembuatan seni kerajinan. Berikut adalah beberapa contoh peran matematika dalam seni kerajinan budaya lokal: Dalam kesimpulannya, matematika memiliki peran penting dalam seni kerajinan budaya lokal. Melalui konsep proporsi, pola, simetri, pengukuran, dan […]

  • Kebudayaan Dan Kebiasaan Menggunakan Internet

    Kebudayaan Dan Kebiasaan Menggunakan Internet

    • calendar_month Ming, 2 Jul 2023
    • account_circle yansurachman
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Kebudayaan dan kebiasaan menggunakan internet telah mengalami perubahan yang signifikan seiring dengan berkembangnya teknologi dan penetrasi internet di seluruh dunia. Berikut adalah beberapa aspek kebudayaan dan kebiasaan yang terkait dengan penggunaan internet: Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan internet juga telah menciptakan tantangan baru seperti privasi online, keamanan data, dan penyebaran informasi yang tidak benar. Oleh […]

  • kritik pedas makan bergizi gratis slamet wakhyanto

    Makan Bergizi Gratis : Menanam Gizi Menuai , Generasi Cerdas

    • calendar_month Sab, 27 Sep 2025
    • account_circle yansurachman
    • visibility 32
    • 0Komentar

    “Anak-anak adalah bunga bangsa. Jika kita ingin melihat masa depan yang cerah, maka pupuklah mereka dengan gizi dan pendidikan yang layak.” – B.J. Habibie Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi sorotan publik, sejatinya adalah upaya menghadirkan keadilan pendidikan dari hal paling mendasar: perut yang kenyang dengan makanan sehat. Gizi bukan hanya soal kesehatan, […]

expand_less