Breaking News
light_mode
Trending Tags

Nara Teater Persiapkan Pentas Ibu Tanah Di Tahun 2025

  • account_circle yansurachman
  • calendar_month Selasa, 14 Jan 2025
  • visibility 205
  • print Cetak

Nara Teater asuhan Silvester Petara Hurit akan mementaskan teater dengan judul “Ibu Tanah” di tahun 2025. Karya ini rencananya akan dipentaskan di Flores Timur daratan, Solor, Adonara dan Lembata.

Pentas “Ibu Tanah” lahir dari pembacaan akan pengalaman traumatik sejarah yakni konflik panjang perang saudara akibat adu-domba bangsa kolonial Eropa terutama Belanda. Ingatan kelam akan konflik dan luka kolektif masih terasa hingga hari ini. Kerugian yang paling besar sebenarnya adalah mengendurnya budaya saling topang dan saling rawat dalam produksi dan distribusi kebutuhan hidup. Masyarakat pesisir dan gunung di masa lalu membangun persaudaraan yang kental selama berabad-abad dalam ketergantungan produktif saling menopang kebutuhan hidup. Akar konflik sebenarnya adalah konstruksi narasi kolonial lewat mitos Paji-Demon yang sesungguhnya adalah pemelintiran dari mitologi tua Lamaholot.

Pentas “Ibu Tanah” adalah konstruksi teks perlawanan sekaligus pembongkaran terhadap konstruksi narasi kolonial lewat mitos Paji-Demon. Bahwa secara mitologi maupun kosmologi, Ibu Tanah (Ina Tana Ekan) adalah Ibu Agung/Ibu Asal/Ibu Kosmik yang merangkul dan mempersatukan. Kekuatan maskulintas adalah kekuatan kreatif (dinamis) sedangkan feminitas yang terepresentasi dalam Ibu Tanah adalah kekuatan pemersatu yang merangkul dan menentramkan.
Tanah idealnya bukan jadi pemicu konflik atau perselisihan melainkan jadi pemersatu. Ini mengingat sifat Ibu Tanah yang berbagi (distributif). Memberi dirinya bagi kehidupan semua mahkluk.

Pentas “Ibu Tanah” berisi sehimpun pengalaman aktor belajar bersama petani ladang, pelaut, tukang ojek, pedagang, pelaku ritual, penenun, pengrajin bambu, maestro sastra lisan terutama pencerapan pengalaman akan kemurahan Ibu Tanah. Pengalaman pertemuan tersebut dapat berupa kisah, nyanyian, mantra, gerak, produk kerajinan dan sebagainya. Pengalaman tersebut dibagi bersama dalam proses latihan di ladang, di pantai, di bukit sebagai jalan penyatuan dengan irama kehidupan semesta (Ibu Tanah). Hasil akhir dari proses penemuan teks bersama ini dibawa dipentaskan di empat pulau yakni: Flores Timur daratan, Adonara, Solor dan Lembata. “Ibu Tanah” dihadirkan sebagai kontra teks Paji-Demon. Pembongkaran narasi konstruksi kolonial sekaligus rekonstruksi sejarah dan kultural melalui teater.
Karya teater Ibu Tanah digagas dengan tujuan antara lain: (1) Membongkar narasi kolonial pemecah-belah (2) Sebagai sarana edukasi dan pencerdasan masyarakat (3) Media kohesi sosial (4) Menciptakan budaya saling topang (5) Mendekatkan masyarakat dengan tanahnya.

Jhon Dasilva sebagai salah satu aktor senior Nara Teater mengatakan bahwa selama ini Nara Teater konsen melakukan penggalian biografi dan jati diri kultural dengan menjadikan khazanah, mitologi, mantra/sastra tutur, ritus, nyanyian, gerak/tarian sebagai bahan untuk merancang-bangun pertunjukan. Proses kreatif Nara Teater adalah upaya menghadirkan tubuh (diri) dalam ruang sebagai sebuah pengalaman penemuan/pembacaan kembali diri dengan segala lapis-lapis pengalaman kedirian/ketubuhan yang dimiliki dalam konteks dan pergerakan waktu yang dinamis. Teater hadir sedekat-dekatnya dengan persoalan hidup masyarakatnya. Terus bicara (:hidup). Berkontribusi kepada publiknya dengan mengelola apa yang ada dan mengoptimalkan apa yang dipunyai.

Rin Wali yang saat ini bertindak sebagai ketua Nara Teater menjelaskan bahwa perjalanan kekaryaan Nara Teater yang sudah cukup panjang menjelaskan visi dan komitmen bersama untuk belajar dan berbagi melalui teater. “Kami berkarya dan tumbuh dalam keterbatasan. Berproses dengan sabar selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapat apresiasi dan dukungan termasuk pendanaan dari Indonesiana dalam karya ini”.

Martin Kabelen salah satu aktor Nara Teater menyatakan bahwa walau mengajar di SMP Panca Marga Kolimasang Adonara namun ia selalu berusaha tepat waktu mengikuti latihan di Larantuka. Pendiri dan Sutradara kami selalu bilang, “Di Nara Teater kami belajar untuk keras dengan diri sendiri; berkomitmen, mencintai proses, serius berlatih dan belajar berbagi. Seni adalah daya hidup, perjuangan nurani dan corong kritisisme publik”.

Penulis

Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran. Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi: Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials. IBM: Generative AI for Educators. Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers. University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner. Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI. Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyaluran Bantuan Tahap 1 bagi Korban Erupsi Gunung Lewotobi oleh Komunitas Guru Garis Depan Kabupaten Flores Timur

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2024
    • account_circle yansurachman
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Flores Timur, 12 November 2024 – Komunitas Guru Garis Depan (GGD) Kabupaten Flores Timur bersama PGRI Flores Timur dan Komunitas Pewarta menyalurkan bantuan tahap pertama bagi korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Bantuan ini diserahkan pada Selasa, 12 November 2024, di dua posko pengungsian utama, yaitu Posko Ile Gerong dan Posko Kobasoma. Bantuan yang diberikan meliputi […]

  • Korps Instruktur Dasar Dan PK IMM STKIP Muhammadiyah Abdya Gelar Follow Up Pasca Darul Arqam Dasar

    • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
    • account_circle yansurachman
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Korps Instruktur Dasar IMM Aceh Barat Daya bersama Pimpinan Komisariat (PK) IMM STKIP Muhammadiyah Aceh Barat Daya menggelar kegiatan Follow Up Pasca Darul Arqam Dasar (DAD) Angkatan XV, yang dilaksanakan di kawasan Irigasi, Batu Tiga, Blang Pidie, Aceh Barat Daya, pada Ahad, 5 Oktober 2025. Ketua Panitia DAD PK IMM STKIP Muhammadiyah Aceh Barat Daya […]

  • Solidaritas Korban Penembakan, DKI Beri Warna Bendera New Zealand di JPO GBK

    • calendar_month Sabtu, 16 Mar 2019
    • account_circle Tim Pawitra
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Pemprov DKI turut berbelasungkawa atas penembakan di dua masjid di Christchurch, New Zealand, yang menewaskan 49 orang. Warna-warna bendera Selandia Baru akan dimunculkan selama seminggu di jembatan penyeberangan orang (JPO) Gelora Bung Karno. Kepala Dinas Bina Marga Hari Nugroho mengatakan kombinasi warna itu dimunculkan di JPO GBK sebagai bentuk solidaritas dan dukungan Jakarta kepada Selandia […]

  • Pentingnya Komunitas Lokal Terhadap Perkembangan Anak

    • calendar_month Rabu, 7 Jun 2023
    • account_circle Tim Pawitra
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Komunitas lokal memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan anak. Berikut adalah beberapa alasan mengapa komunitas lokal penting bagi perkembangan anak: Penting bagi orang tua dan lembaga pendidikan untuk mendukung keterlibatan anak dalam komunitas lokal. Mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan komunitas, melibatkan anak-anak dalam proyek-proyek sosial, dan memfasilitasi hubungan yang positif antara anak dan anggota […]

  • Tenun Ikat Waibalun , Upaya Oma Margareta Menenun Masa Depan di ArtLarantuka

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli: Guru SMK Sura Dewa Larantuka, pegiat literasi, seniman teater, penulis media nasional.
    • visibility 221
    • 0Komentar

    LARANTUKA – Isu kepunahan regenerasi pengrajin Tenun Ikat Waibalun menjadi sorotan utama dalam agenda diskusi seni yang digelar di Aula Paroki Waibalun, Flores Timur, Jumat (20/2/2026). Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ArtLarantuka Vol. 1 yang diinisiasi oleh kelompok kolektif Teater Rakaat guna melestarikan jejak kebudayaan lokal. Kegiatan yang berlangsung sejak 19 hingga 22 […]

  • Kompor Briket Bantala, Solusi Kemandirian Energi di Flores Timur

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Anjelina Tukan : Pegiat Literasi Komunitas Nara Eban di Desa Bantala Larantuka
    • visibility 102
    • 0Komentar

    FLORES TIMUR – Keterbatasan pasokan minyak tanah yang melanda wilayah Flores Timur mendorong munculnya inovasi kreatif dari akar rumput. Masyarakat Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, kini mulai beralih menggunakan Kompor Briket Bantala sebagai solusi alternatif memasak yang efektif dan ramah lingkungan. Langkah ini dimotori oleh Komunitas Energi Terbarukan “Wolosina Watoboki” yang berkomitmen memanfaatkan potensi lokal secara […]

expand_less
Exit mobile version