Menenun Ingatan Sawah yang Kering dalam Monolog Nikanor Bana di Waibalun
- account_circle Moh. Zaini Ratuloli: Guru SMK Sura Dewa Larantuka, pegiat literasi, seniman teater, penulis media nasional.
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 36
- comment 0 komentar

WAIBALUN – Di tengah sunyinya apresiasi massa, aktor muda Nikanor Bana menyuarakan kegelisahan mendalam mengenai krisis pangan dan nasib lahan pertanian yang kian ditinggalkan melalui panggung monolog Teater Rakaat. Pertunjukan bertajuk kritik sosial ini digelar di Aula Paroki St. Ignatius Waibalun pada Jumat malam (20/2/2026).
Nikanor Bana, atau yang akrab disapa Ano, tampil memukau dengan narasi yang memaksa penonton merefleksikan kondisi sawah-sawah di daerah yang kini perlahan mengering akibat pengalihan fungsi dan ditinggalkan pemiliknya. Lakon yang ia bawakan sendiri tersebut juga menyentuh isu sensitif mengenai peredaran beras plastik serta fenomena masyarakat lokal yang terpaksa merantau demi mencari sesuap nasi akibat hilangnya kemandirian pangan di tanah kelahiran.
Kritik Atas Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan
Meski pementasan ini dinilai memiliki bobot makna yang sangat dalam bagi ketahanan pangan, kehadiran penonton tercatat sangat minim. Kondisi ini menjadi sorotan tersendiri bagi pengamat seni lokal, Moh Zaini Ratuloli, yang menilai bahwa di tengah pertumbuhan kota, hiburan bermakna seringkali dianggap sebagai beban pikiran oleh masyarakat yang masih berjuang secara ekonomi.
- Fokus Isu: Degradasi lahan pertanian dan ancaman pangan lokal.
- Simbolisme: Beras plastik dan migrasi paksa sebagai dampak krisis sistemik.
- Refleksi: Mempertanyakan makna kesejahteraan di tengah tumbuhnya kota yang tidak inklusif.
Pementasan ini menjadi barang langka di kota tersebut, memberikan ruang diskusi krusial tentang bagaimana masyarakat dapat tetap hidup dari apa yang mereka tanam. Teater Rakaat melalui langkah-langkah kecilnya terus berupaya menjaga nyala api kesadaran literasi dan budaya di Flores Timur, meskipun tantangan apresiasi publik masih menjadi tembok besar yang harus ditembus.
- Penulis: Moh. Zaini Ratuloli: Guru SMK Sura Dewa Larantuka, pegiat literasi, seniman teater, penulis media nasional.
- Editor: Yan Surachman



Saat ini belum ada komentar