Prompting Fungsional , Rahasia Guru Mengendalikan Kecerdasan Artifisial
- account_circle yansurachman
- calendar_month Kam, 16 Okt 2025
- visibility 52
- comment 0 komentar

Larantuka — Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi digital, penggunaan kecerdasan artifisial (AI) kini menjadi tuntutan baru bagi para guru dan tenaga kependidikan. AI diharapkan mampu mempercepat pekerjaan administratif sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Namun, tantangan muncul karena tidak semua guru memahami cara menggunakan teknologi seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, atau DeepSeek secara efektif.
Kehadiran AI seharusnya menjadi sahabat guru dalam bekerja, bukan sekadar alat yang membingungkan. Oleh karena itu, pemahaman tentang prompting fungsional menjadi sangat penting. Prompting fungsional adalah teknik memberi instruksi yang tepat agar AI bekerja sesuai kebutuhan pengguna. Dengan pemahaman ini, guru dapat mengarahkan AI untuk menghasilkan bahan ajar, evaluasi, atau laporan secara cepat dan akurat.
Redaktur ZamanNewsID, Yan Surachman , menjelaskan bahwa kemampuan menulis prompt yang efektif kini menjadi keterampilan baru yang harus dimiliki oleh guru di era digital.
“Kita sebenarnya bisa belajar langsung kepada AI tentang bagaimana membuat prompt yang baik. Cukup bertanya dengan tepat, maka AI akan menunjukkan cara berpikirnya,” ujar Yan Surachman.
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa dengan mengupload file berkas tertentu sebagai dokumen acuan, kita dapat meminta prompt fungsional pada ChatGPT , Gemini , atau AI . Dimana prompt tersebut yang akan digunakan untuk menghasilkan dokumen serupa contoh.
Sementara itu, seniman Flores Timur Moh Zaini Ratuloli menilai, pemanfaatan kecerdasan artifisial juga mulai merambah dunia kesenian dan pertunjukan budaya.
“AI bisa membantu seniman membuat desain panggung, atau bahkan mengatur jadwal latihan. Tapi tetap, kendalinya harus ada pada manusia,” tutur Zaini.
Menurut para ahli di internet, prompting fungsional dimulai dengan cara sederhana: menentukan tujuan, memberikan konteks, dan menuliskan instruksi secara jelas. Misalnya, guru dapat memulai prompt dengan menyebut peran AI (“Kamu adalah asisten pengajar IPA”), lalu menyebut tugasnya (“Buatkan RPP tentang sistem pernapasan manusia”), dan menambahkan gaya yang diinginkan (“Gunakan bahasa yang mudah dipahami siswa SMP”). Dengan pola seperti ini, AI dapat menghasilkan keluaran yang lebih relevan dan efisien.
Di masa depan, kemampuan menggunakan AI secara cerdas diyakini akan menjadi bagian penting dari kompetensi guru. Pemahaman tentang prompting fungsional bukan hanya mempermudah pekerjaan, tetapi juga membuka peluang baru dalam inovasi pembelajaran dan pelestarian budaya digital.
Penulis yansurachman
Tentang Yan Surachman: Yan Surachman adalah praktisi pendidikan dan jurnalis teknologi yang berdedikasi menjembatani inovasi AI dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebagai Pemimpin Redaksi ZamanNews.id, Yan menghadirkan analisis mendalam mengenai integrasi teknologi dalam pembelajaran. Keahlian & Sertifikasi Profesional: Sebagai seorang Professional Prompt Engineer, kepakaran Yan telah diakui secara global melalui berbagai spesialisasi: Google: Google AI Essentials & Prompting Essentials. IBM: Generative AI for Educators. Vanderbilt University: Generative AI for Educators and Teachers. University of Michigan: Generative AI as Design Learning Partner. Politecnico di Milano: Smart Teaching and Learning with AI. Dedikasi Komunitas & Seni: Yan mendirikan Komunitas Jejak Zaman di Larantuka pada 10 Mei 2023, sebuah inisiatif swadaya yang berfokus pada pelestarian budaya. Ia juga mengelola Perpustakaan Komunitas Jejak Zaman dan aktif berkarya sebagai pelukis di Galeri Jejak Zaman.

Saat ini belum ada komentar