Menyelami Kesakralan “Lamafa ” , Simbol Keteguhan Budaya dalam Novel Fince Bataona
- account_circle Ayu Lelang Ayaq : Pegiat literasi dan penulis muda berbakat dari Flores Timur.
- calendar_month Ming, 25 Jan 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar

Larantuka – Literasi bukan sekadar deretan kata, melainkan cermin kebudayaan yang hidup. Novel “Lamafa” karya Fince Bataona hadir sebagai upaya monumental dalam menjaga tradisi masyarakat Lamalera di tengah gempuran modernitas. Melalui tinjauan mendalam Ayu Lelang Ayaq, Ketua Club Baca Sura Dewa, novel ini mengungkap sisi sakral dari perburuan paus yang selama ini hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi.
Berlatar di Desa Lamalera, novel ini memotret kehidupan nelayan saat musim lefa yang berlangsung dari Mei hingga Oktober. Namun, inti cerita bukan sekadar perburuan fisik, melainkan perjuangan batin mempertahankan adat dari tekanan internal maupun eksternal kota besar.
Lamafa , Pribadi Sakral di Atas Gelombang
Dalam tradisi Lamalera, seorang Lamafa atau juru tikam paus bukanlah profesi sembarangan. Ia adalah sosok sakral yang memikul harapan seluruh awak perahu dan masyarakat. Kesakralan seorang Lamafa terpancar dari kemampuannya menjaga kemurnian pikiran, perkataan, dan perbuatan.
“Seorang Lamafa harus membersihkan dan mengosongkan dirinya dari hal-hal buruk sebelum melaut,” tulis Ayu dalam ulasannya. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan membawa pulang buruan adalah anugerah Tuhan dan leluhur yang tak terpisahkan dari integritas moral sang eksekutor.
Ema dan Panggilan Lewo Tanah
Di balik ketegangan di laut, novel ini melukiskan ketangguhan sosok perempuan melalui karakter Ema (Mama). Pasca kematian suaminya, Ema bertransformasi menjadi tiang penyangga keluarga bagi ketiga putranya. Ketenangannya dalam menghadapi badai kehidupan menjadi kunci kebahagiaan keluarga di akhir cerita.
Konflik memuncak saat tokoh utama memilih menjadi Lamafa. Keputusan ini digambarkan sebagai sebuah panggilan untuk membangun Lewo Tanah (kampung halaman). Meski harus menghadapi gelombang pengkhianatan, tokoh ‘Saya’ memilih jalan ini demi merawat sang Ibu yang kian menua di kampung.
“Ratukan Ibumu tapi jangan lupa dengan Rajanya,” sebuah prinsip yang melandasi pengabdian sang tokoh dalam novel ini.
Novel “Lamafa” bukan hanya sebuah fiksi, melainkan manifestasi dari kutipan Albert Einstein bahwa di tengah kesulitan terdapat kesempatan. Kesempatan bagi generasi muda Flores Timur untuk kembali ke akar kebudayaan dan memperbaiki hubungan keluarga melalui pengabdian tulus sebagai seorang Lamafa.
- Penulis: Ayu Lelang Ayaq : Pegiat literasi dan penulis muda berbakat dari Flores Timur.
- Editor: AI Editor - Gemini 3.0


Saat ini belum ada komentar