Hari Guru Nasional 2025 , Praktisi Pendidikan Gagas Grup WhatsApp “Prompting AI untuk Pendidikan dan Profesional

Grup diskusi whatsapp prompting AI untuk pendidikan dan profesional

FLORES TIMUR – Peringatan Hari Guru Nasional 2025 menjadi momentum lahirnya inovasi kolaboratif di kalangan pendidik Indonesia. Tiga praktisi pendidikan, Yan Surachman , Antonius Ruron , dan Fandi Setiyanto , resmi membentuk grup WhatsApp “Prompting AI untuk Pendidikan dan Profesional”, sebuah forum diskusi yang dirancang untuk memperkuat literasi prompting dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan.

Grup ini didirikan tepat pada Hari Guru Nasional 2025, menandai komitmen baru pendidik untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Kolaborasi Lintas Profesi: Guru, Pengawas, Dosen, dan Pemerhati Pendidikan
Forum ini baru dibentuk dan diikuti oleh puluhan anggota dari berbagai latar belakang, termasuk guru, pengawas sekolah, anggota organisasi profesi, dosen, serta pemerhati dan praktisi AI untuk pendidikan. Beragamnya latar keilmuan dan pengalaman anggota menjadikan grup ini sebagai ruang problem solving yang dinamis.

Diskusi di grup semakin hidup berkat pemantik persoalan yang aktif mengangkat isu-isu strategis, yakni Maksimus Masan Kian, pengurus APKS PB PGRI, dan Varizal Amir, Founder Teraa.Net serta pegiat literasi digital di Trenggalek, Jawa Timur.

Ketiga pendiri grup memiliki rekam jejak yang kuat di dunia pendidikan yaitu Yan Surachman, praktisi pendidikan dan pengembang komunitas literasi; Antonius Ruron, Dosen Universitas Timor sekaligus Sekretaris PGRI Kabupaten Timor Tengah Utara ; Fandi Setiyanto , Sekretaris PGRI Kabupaten Flores Timur.

Kehadiran mereka memastikan diskusi dalam grup tidak hanya teknis, tetapi juga relevan dengan kebijakan pendidikan dan dinamika organisasi profesi.

AI untuk Efisiensi Administrasi Guru
Yan Surachman menegaskan bahwa kemampuan prompting AI sangat penting bagi guru modern. Dengan teknik prompt yang baik, banyak pekerjaan administratif dapat diotomatisasi sehingga guru dapat lebih fokus pada pembelajaran dan interaksi dengan murid.

“Prompting AI adalah jalan untuk mengurangi beban administrasi. Guru bisa kembali ke hakikatnya: mendidik dan berinteraksi dengan siswa,” ujarnya.

Menurut Antonius Ruron dan Fandi Setiyanto, pemanfaatan AI membuka peluang untuk menghasilkan dokumen pendidikan yang lebih rapi, terstruktur, dan profesional.

“Dengan prompt yang tepat, kualitas dokumen meningkat drastis. Mulai dari perangkat pembelajaran, laporan, hingga publikasi guru dapat dibuat jauh lebih cepat dan lebih baik,” kata Antonius.

Fandi menambahkan bahwa kemampuan prompting adalah keterampilan baru yang tak terhindarkan bagi guru masa depan.

Portofolio Prompt Terbuka untuk Semua Anggota
Demi memperkuat ekosistem pembelajaran bersama, grup ini menyediakan portofolio prompt yang dapat diakses secara bebas oleh seluruh anggota. Portofolio tersebut memuat kumpulan prompt terbaik yang dapat digunakan untuk perangkat pembelajaran, perencanaan proyek, administrasi sekolah, hingga pembuatan media edukasi berbasis AI.

Dengan ini, setiap anggota—baik pemula maupun profesional—dapat belajar dan berkolaborasi lebih cepat.

Pembentukan grup “Prompting AI untuk Pendidikan dan Profesional” menjadi simbol semangat transformasi pada Hari Guru Nasional 2025. Para pendidik kini tidak hanya mengajar, tetapi juga mengembangkan kemampuan baru untuk menghadapi era digital.

Dengan kolaborasi lintas profesi, dukungan organisasi, serta pemanfaatan teknologi AI, grup ini diharapkan menjadi ruang inovasi yang memperkuat kualitas pendidikan Indonesia.

Exit mobile version